Aktifitas bisnis adalah sebuah keniscayaan. Bisnis selalu berpengaruh besar dalam kehidupan ekonomi, sosial dan politik sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Kekuatan ekonomi yang dibangun melalui bisnis bisa mempengaruhi gejolak maupun stabilitas politik suatu bangsa. Jatuh bangunnya setiap rezim pemerintahan kerap diawali oleh krisis ekonomi di negara tersebut yang gagal ditangani dengan baik. Hampir setiap manusia di dunia ini –dalam bentuk dan skalanya masing-masing- terlibat dalam urusan bisnis. Kini, bisnis telah memenuhi relung-relung kehidupan setiap individual, komunal, regional dan internasional.
Keterlibatan kaum muslimin, khususnya para aktifis da’wah (da’i), dalam dunia bisnis bukanlah suatu fenomena baru. Sejarah mencatat, da’wah Islam masuk kali pertama ke Nusantara ini di bawa oleh para da’i dari benua seberang yang diutus oleh Kekhalifahan Utsmaniyah, yang juga pebisnis ulung. Rasulullah saw sendiri terlibat dalam urusan bisnis selama belasan tahun untuk mem-back up kegiatan da’wahnya. Islam memang menganjurkan umatnya untuk melakukan kegiatan bisnis.
Namun, kaum muslimin saat ini menghadapi masalah yang dilematis. Di sebagian kalangan umat Islam, terutama yang sangat dipengaruhi faham sufiisme, beranggapan bahwa bisnis adalah “godaan duniawi” yang dapat menjauhkan umat dari “kelezatan ukhrawi”. “Biarlah orang-orang kafir itu kini berlomba membuat bangunan-bangunan megah di dunia. Kita, orang-orang beriman, tengah mempersiapkan membangun istana di surga kelak”. Sebenarnya golongan ini memerlukan uluran tangan untuk meringankan kehidupan ekonominya yang memprihatinkan, namun karena ideologi dan pilihan hidupnya, menyebabkan sulit bagi pihak lain untuk menolongnya keluar dari himpitan kebutuhan hidup yang rasional. Ketika para penganut mazhab ini semakin banyak dan berkembang, maka dapat dipastikan bahwa secara makro, kehidupan ekonomi bangsa di negara tersebut masuk dalam kategori “hidup di bawah garis kemiskinan”. Dampaknya adalah, tertinggalnya peradaban bangsa tersebut dalam pergaulan internasional.
Sementara, di sebagian kalangan umat Islam lainnya yang telah sadar akan pentingnya membangun kekuatan ekonomi, dihadapkan pada masalah ketidakpastian, kekaburan dan ketidakmengertian akan praktek-praktek bisnis yang benar menurut syari’at Islam. Mengingat jenis, bentuk, metode dan teknik-teknik bisnis yang berkembang sekarang ini belum pernah ada dan dipraktekkan di jaman Nabi. Perdagangan saat ini bukan saja meliputi produk barang dan jasa, tetapi bahkan merambah pada sektor ideologi dan idealisme. Komunitas massa dan jaringan pun kini dapat dikomersialisasi dan dimonetisasi. Pasar sebagai wahana transaksi bisnis, bukan lagi hanya terjadi di mall-mall atau bursa-bursa saham, tetapi juga di mimbar-mimbar parlemen yang terhormat. Uang atau surat berharga bukan lagi satu-satunya alat tukar pembayaran dalam transaksi, tetapi ada yang lebih istimewa, yakni posisi dan jabatan.
Selain karena hal-hal tersebut di atas adalah baru, bentuk dan jenis bisnis tersebut kini berkembang populer dan bahkan menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari sistem ekonomi dan praktek bisnis kontemporer. Sebagian umat Islam, terutama para aktifis da’wah dilanda kebingungan, apakah praktek-praktek bisnis tersebut sesuai dengan ajaran Al-Qur’an, atau bertentangan. Fenomena semakin maraknya praktek-praktek bisnis jenis baru tersebut jelas mesti disikapi secara arif, agar umat Islam tidak terseret sikap ekstrim: meninggalkan sama sekali urusan duniawi yang telah dipenuhi oleh praktek bisnis kotor; atau terjun bebas mengikuti arus serba boleh dengan dalih: Prinsip Islam adalah membolehkan segala sesuatu dalam urusan muamalah, hingga ada nash yang jelas mengharamkannya!
Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjelaskan secara jernih praktek-praktek bisnis yang islami, sehingga dapat menjadi pijakan dalam mengarungi dunia bisnis.
Minggu, 03 April 2011
Minggu, 27 Maret 2011
Asma-ul Husna dan Bisnis (2)
Prinsip-prinsip Bisnis dalam Al-Qur’an
Al-Qur' an dengan sangat eksplisit mendeskripsikan prinsip-prinsip tertentu yang Allah perintahkan dan kejahatan yang sama sekali tidak Dia ijinkan. Hidup dan nasib manusia secara langsung dipengaruhi dan dikontrol oleh prinsip-prinsip tersebut. Dengan demikian, ekpose singkat tentang prinsip-prinsip itu bukan sesuatu yang hanya dibutuhkan, namun pada saat yang sama ia merupakan sesuatu yang esensial untuk diketengahkan dalam tulisan ini. Untuk tujuan yang mulia ini dan juga demi memberikan kejelasan, prinsip-prinsip tersebut akan didiskusikan dalam hubungannya yang relevan dengan kehidupan, (1). Di dunia dan (2) Di akhirat.
1. Di Dunia
Allah menciptakan alam semesta dan menciptakan manusia untuk menghuni, mengeksplorasi dan mendayagunakan potensi dunia ini. [37] Dia memberikan pada manusia hikmah dan kekuatan untuk memanfaatkan sumber-sumber alam. [38] Allah jadikan segala sesuatu berada dan takluk di bawah kekuatan manusia. [39] Dan Allah jadikan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. [40] Alasan mengapa manusia mendapat posisi yang demikian istimewa, telah Al-Qur' an terangkan. Pada saat segala apa yang ada di dunia diharuskan untuk mengikuti hukum alam yang Allah ciptakan tanpa reserve, [41] manusia diberi kemampuan dan kemerdekaan untuk memilih jalan yang baik atau jalan yang buruk. [42] Dia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sekaligus bisa menentukan opsi (pilihan) di antara dua hal itu alas dasar pilihannya sendiri dan kemauan bebasnya. Karena kemauan bebas yang sangat istimewa [43] inilah Allah memberikan amanah dan tanggung jawab pada manusia untuk merealisasikan kehendak-Nya dalam bingkai moral. [44] Inilah, secara singkat raison d'etre tugas utama manusia di dunia.
Kehidupan dunia ini adalah sebuah ujian yang sangat krusial bagi manusia. Dia akan senantiasa dan terus menerus ada dalam ujian, untuk mampu melakukan penempatan kehendak bebasnya secara proporsional. [45] Realisasi dari kemauan Ilahi dalam hukum moral adalah amanah yang diambil secara sukarela ataupun terpaksa. [46] Sebagai tambahan pada rasio dan kapabilitas yang jernih dan tajam, Allah juga mengaruniakan kepada manusia satu etika moral yang komplet dan sempurna dalam bentuk Al-Qur' an, [47] dimana di dalamnya parameter kebaikan dan keburukan bisa dilihat dengan jelas dan sangat transparan untuknya. [48] Manusia diperintahkan untuk berperilaku sesuai dengan etika moral, guideline (petunjuk) yang ada di dalam Al-Qur' an. [49] Dia bukan hanya disuruh melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, [50] namun ia juga diperintahkan untuk menyuruh pada kebaikan (amar ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). [51] Setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan kadar kapasitasnya, sebab Allah tidak akan menyuruh manusia di luar batas kemampuan dan kapasitasnya tersebut. [52]
Allah menempatkan manusia di dunia ini dalam posisi yang berbeda-beda. Oleh karena itulah perilaku mutualistis (saling menguntungkan) dan kooperatif (kerjasama) menjadi sebuah keharusan mutlak. [53] Namun demikian, itu tidak berarti bahwasanya posisi-posisi itu adalah sesuatu yang permanen dan juga sebagai indikasi adanya status final seseorang. Semua itu adalah sekedar variasi kesempatan yang disediakan dalam batas waktu yang terbatas, dalam rangka agar manusia mengaktualkan diri dan menunjukkan nilai dirinya. [54] Posisi final setiap individu manusia akan ditentukan nanti pada Hari Kiamat, berdasarkan rekam jejak kumulatif yang dia lakukan di dunia ini . Di sinilah terletak signifikan dan pentingnya kehidupan manusia yang terbatas di dunia ini. [55]
Di dunia ini mungkin saja manusia tidak memperoleh semua hasil dari apa yang dia kerjakan, walaupun dalam beberapa hal bisa ia peroleh, sebab Allah tidak menjadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat untuk mencapai segalanya. Maka, perlu kiranya dicatat di sini, bahwasanya segala usaha manusia pasti akan mendapat balasan, jika tidak di dunia ini, pasti ia akan mendapat balasan di akhirat. [56] Oleh karena itulah manusia diperintahkan untuk bekerja keras dan melanjutkan perjuangan di jalan yang lurus tanpa kenal lelah dan jangan sampai resah dengan hasil yang ingin dicapai dengan segera. [57] Hasil yang akan dia capai akan sangat proporsional sesuai dengan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan. [58] Maka jika ada kerusakan dan pengrusakan di dunia itu semua merupakan akibat dari perbuatan jahat manusia. [59] Jika seseorang yang melakukan kesalahan itu bertobat dan mengakui dosa-dosanya, Allah akan menerima tobat mereka, dan akan mengampuni semua dosa-dosanya. Allah juga akan melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. [60]
Kehidupan di dunia ini, sangat singkat, pendek dan remeh jika dibandingkan dengan kehidupan yang abadi di Akhirat. [61] Oleh karena itu AlQur' an sering kali menyebut kehidupan dunia ini hanya sebagai fatamorgana. [62] Masa hidup manusia di dunia ini telah pula Allah tentukan sebelumnya. [63] Allah telah menetapkan bahwa seluruh jiwa akan mencicipi kematian dan dia akan berpisah dengan dunia yang fana ini. [64] Sesungguhnya dunia yang kini kita berada akan berakhir pada saat yang telah ditentukan dan hanya Allah yang tahu. [65] Kehidupan yang abadi di akhirat akan dimulai saat dunia yang fana ini berakhir. Dua konsep tentang dunia kini dan Hari Akhir adalah dua konsep dimana satu dengan yang lainnya saling berhubungan yang tak mungkin bisa dibayangkan wujud salah satu di antaranya tanpa adanya yang lain. [66]
Walaupun kehidupan manusia di dunia sangatlah pendek, namun kehidupan ini sangatlah berarti sebab pada saat di dunia inilah manusia dituntut untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi hari akhirat. [67] Kehidupan di dunia ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan pada manusia untuk berusaha mempersiapkan diri untuk membajak dan menanam "benih" (amal), baik untuk kesejahteraan hidup di dunia ini maupun untuk kesejahteraan hidup di akhirat. [68] Sedangkan hari akhirat adalah semata-mata merupakan masa memetik hasil kerja yang telah dilakukan dan dia tanam di dunia. [69] Semua tindakan manusia di dunia ini selalu dimonitor dan direkam serta disimpan di dalam buku amal (Book of Deeds, Kitab Amal), yang buku tersebut akan diberikan kepada manusia di Hari Pengadilan. [70] Tak ada yang terlewat dari ilmu Allah [71] karena Dia Maha Tahu dan yang selalu hadir di tengah-tengah manusia yang sedang berbisik-bisik dua orang atau lebih. [72]
Walaupun secara fakta apa yang dimiliki manusia, termasuk di dalamnya badan dan jiwanya adalah pemberian Allah, [73] namun demikian, Allah membuat dealing (jual beli) dengan manusia. Dengan membeli jiwa dan harta mereka dan menjanjikan pada mereka surga. [74]
Seorang Mukmin menerima jual beli ini dan menyerahkan jiwa serta semua hak miliknya kepada Allah; artinya ia mempergunakan semuanya itu untuk merealisasikan kehendak Allah. Yang dengan demikian dia yakin bahwa hasil yang akan dicapai adalah surga Allah. Dengan kata lain, kebahagiaan di Hari Kemudian seluruhnya sangat tergantung pada tindakan yang benar dari seseorang selama berada di dunia. [75]
2. Di Akhirat
Al-Qur'an menegaskan secara jelas dan tegas bahwa kehidupan manusia di dunia ini tidaklah berakhir dengan kematian. [76] Kematian hanyalah sebuah pintu gerbang pada sebuah kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan di dunia, yakni kehidupan alam akhirat, [77] yang menurut pandangan Al-Qur'an adalah sebuah kepastian dan tidak mungkin bisa dielakkkan. [78] Kehidupan di akhirat itu berbeda dengan kehidupan di dunia karena Allah telah mencantumkan prinsip-prinsip tertentu untuk mencapai itu. Beberapa keunikan di hari akhirat adalah sebagai berikut:
Pertama : Al-Qur'an menghadirkan Allah sebagai contoh utama kepada manusia dalam segala perilaku mereka. Setiap Muslim diperintahkan untuk meniru sifat-sifat Allah dalam kehidupan mereka, termasuk di dalamnya, perilaku bisnis mereka.
Kedua : Al-Qur'an secara jelas menggambarkan sifat-sifat Allah dan semua prinsip-prinsip yang Allah perintahkan. Semua ini tidak bisa tidak akan mempengaruhi pikiran dan perilaku seorang Muslim, dan menggiring mereka melakukan yang terbaik dan yang sesuai dengan sifat-sifat Allah itu. Manusia-manusia yang seperti ini akan sangat tidak terlalu membutuhkan kekuatan ataupun otoritas luar untuk selalu merasa diawasi tingkah lakunya (karena ia sadar bahwasanya Allah akan selalu tahu, mengawasi dan tidak lalai terhadap tingkah dan perilakunya, yang biasa dikenal dengan konsep muragabatullahi, pent).
Pengetahuan tentang sifat-sifat Allah dan semua prinsip yang Dia perintahkan akan membentuk sebuah pendahuluan yang vital pada konsep-konsep yang unik tentang bisnis yang Al-Qur'an tawarkan.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
(Selesai)
Referensi:
http://www.eramuslim.com/syariah/ekonomi-islam/syamsul-balda-wakil-ketua-umum-syabakah-asma-ul-husna-dan-bisnis-2.htm
Al-Qur' an dengan sangat eksplisit mendeskripsikan prinsip-prinsip tertentu yang Allah perintahkan dan kejahatan yang sama sekali tidak Dia ijinkan. Hidup dan nasib manusia secara langsung dipengaruhi dan dikontrol oleh prinsip-prinsip tersebut. Dengan demikian, ekpose singkat tentang prinsip-prinsip itu bukan sesuatu yang hanya dibutuhkan, namun pada saat yang sama ia merupakan sesuatu yang esensial untuk diketengahkan dalam tulisan ini. Untuk tujuan yang mulia ini dan juga demi memberikan kejelasan, prinsip-prinsip tersebut akan didiskusikan dalam hubungannya yang relevan dengan kehidupan, (1). Di dunia dan (2) Di akhirat.
1. Di Dunia
Allah menciptakan alam semesta dan menciptakan manusia untuk menghuni, mengeksplorasi dan mendayagunakan potensi dunia ini. [37] Dia memberikan pada manusia hikmah dan kekuatan untuk memanfaatkan sumber-sumber alam. [38] Allah jadikan segala sesuatu berada dan takluk di bawah kekuatan manusia. [39] Dan Allah jadikan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. [40] Alasan mengapa manusia mendapat posisi yang demikian istimewa, telah Al-Qur' an terangkan. Pada saat segala apa yang ada di dunia diharuskan untuk mengikuti hukum alam yang Allah ciptakan tanpa reserve, [41] manusia diberi kemampuan dan kemerdekaan untuk memilih jalan yang baik atau jalan yang buruk. [42] Dia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sekaligus bisa menentukan opsi (pilihan) di antara dua hal itu alas dasar pilihannya sendiri dan kemauan bebasnya. Karena kemauan bebas yang sangat istimewa [43] inilah Allah memberikan amanah dan tanggung jawab pada manusia untuk merealisasikan kehendak-Nya dalam bingkai moral. [44] Inilah, secara singkat raison d'etre tugas utama manusia di dunia.
Kehidupan dunia ini adalah sebuah ujian yang sangat krusial bagi manusia. Dia akan senantiasa dan terus menerus ada dalam ujian, untuk mampu melakukan penempatan kehendak bebasnya secara proporsional. [45] Realisasi dari kemauan Ilahi dalam hukum moral adalah amanah yang diambil secara sukarela ataupun terpaksa. [46] Sebagai tambahan pada rasio dan kapabilitas yang jernih dan tajam, Allah juga mengaruniakan kepada manusia satu etika moral yang komplet dan sempurna dalam bentuk Al-Qur' an, [47] dimana di dalamnya parameter kebaikan dan keburukan bisa dilihat dengan jelas dan sangat transparan untuknya. [48] Manusia diperintahkan untuk berperilaku sesuai dengan etika moral, guideline (petunjuk) yang ada di dalam Al-Qur' an. [49] Dia bukan hanya disuruh melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, [50] namun ia juga diperintahkan untuk menyuruh pada kebaikan (amar ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). [51] Setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan kadar kapasitasnya, sebab Allah tidak akan menyuruh manusia di luar batas kemampuan dan kapasitasnya tersebut. [52]
Allah menempatkan manusia di dunia ini dalam posisi yang berbeda-beda. Oleh karena itulah perilaku mutualistis (saling menguntungkan) dan kooperatif (kerjasama) menjadi sebuah keharusan mutlak. [53] Namun demikian, itu tidak berarti bahwasanya posisi-posisi itu adalah sesuatu yang permanen dan juga sebagai indikasi adanya status final seseorang. Semua itu adalah sekedar variasi kesempatan yang disediakan dalam batas waktu yang terbatas, dalam rangka agar manusia mengaktualkan diri dan menunjukkan nilai dirinya. [54] Posisi final setiap individu manusia akan ditentukan nanti pada Hari Kiamat, berdasarkan rekam jejak kumulatif yang dia lakukan di dunia ini . Di sinilah terletak signifikan dan pentingnya kehidupan manusia yang terbatas di dunia ini. [55]
Di dunia ini mungkin saja manusia tidak memperoleh semua hasil dari apa yang dia kerjakan, walaupun dalam beberapa hal bisa ia peroleh, sebab Allah tidak menjadikan kehidupan dunia ini sebagai tempat untuk mencapai segalanya. Maka, perlu kiranya dicatat di sini, bahwasanya segala usaha manusia pasti akan mendapat balasan, jika tidak di dunia ini, pasti ia akan mendapat balasan di akhirat. [56] Oleh karena itulah manusia diperintahkan untuk bekerja keras dan melanjutkan perjuangan di jalan yang lurus tanpa kenal lelah dan jangan sampai resah dengan hasil yang ingin dicapai dengan segera. [57] Hasil yang akan dia capai akan sangat proporsional sesuai dengan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan. [58] Maka jika ada kerusakan dan pengrusakan di dunia itu semua merupakan akibat dari perbuatan jahat manusia. [59] Jika seseorang yang melakukan kesalahan itu bertobat dan mengakui dosa-dosanya, Allah akan menerima tobat mereka, dan akan mengampuni semua dosa-dosanya. Allah juga akan melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. [60]
Kehidupan di dunia ini, sangat singkat, pendek dan remeh jika dibandingkan dengan kehidupan yang abadi di Akhirat. [61] Oleh karena itu AlQur' an sering kali menyebut kehidupan dunia ini hanya sebagai fatamorgana. [62] Masa hidup manusia di dunia ini telah pula Allah tentukan sebelumnya. [63] Allah telah menetapkan bahwa seluruh jiwa akan mencicipi kematian dan dia akan berpisah dengan dunia yang fana ini. [64] Sesungguhnya dunia yang kini kita berada akan berakhir pada saat yang telah ditentukan dan hanya Allah yang tahu. [65] Kehidupan yang abadi di akhirat akan dimulai saat dunia yang fana ini berakhir. Dua konsep tentang dunia kini dan Hari Akhir adalah dua konsep dimana satu dengan yang lainnya saling berhubungan yang tak mungkin bisa dibayangkan wujud salah satu di antaranya tanpa adanya yang lain. [66]
Walaupun kehidupan manusia di dunia sangatlah pendek, namun kehidupan ini sangatlah berarti sebab pada saat di dunia inilah manusia dituntut untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi hari akhirat. [67] Kehidupan di dunia ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan pada manusia untuk berusaha mempersiapkan diri untuk membajak dan menanam "benih" (amal), baik untuk kesejahteraan hidup di dunia ini maupun untuk kesejahteraan hidup di akhirat. [68] Sedangkan hari akhirat adalah semata-mata merupakan masa memetik hasil kerja yang telah dilakukan dan dia tanam di dunia. [69] Semua tindakan manusia di dunia ini selalu dimonitor dan direkam serta disimpan di dalam buku amal (Book of Deeds, Kitab Amal), yang buku tersebut akan diberikan kepada manusia di Hari Pengadilan. [70] Tak ada yang terlewat dari ilmu Allah [71] karena Dia Maha Tahu dan yang selalu hadir di tengah-tengah manusia yang sedang berbisik-bisik dua orang atau lebih. [72]
Walaupun secara fakta apa yang dimiliki manusia, termasuk di dalamnya badan dan jiwanya adalah pemberian Allah, [73] namun demikian, Allah membuat dealing (jual beli) dengan manusia. Dengan membeli jiwa dan harta mereka dan menjanjikan pada mereka surga. [74]
Seorang Mukmin menerima jual beli ini dan menyerahkan jiwa serta semua hak miliknya kepada Allah; artinya ia mempergunakan semuanya itu untuk merealisasikan kehendak Allah. Yang dengan demikian dia yakin bahwa hasil yang akan dicapai adalah surga Allah. Dengan kata lain, kebahagiaan di Hari Kemudian seluruhnya sangat tergantung pada tindakan yang benar dari seseorang selama berada di dunia. [75]
2. Di Akhirat
Al-Qur'an menegaskan secara jelas dan tegas bahwa kehidupan manusia di dunia ini tidaklah berakhir dengan kematian. [76] Kematian hanyalah sebuah pintu gerbang pada sebuah kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan di dunia, yakni kehidupan alam akhirat, [77] yang menurut pandangan Al-Qur'an adalah sebuah kepastian dan tidak mungkin bisa dielakkkan. [78] Kehidupan di akhirat itu berbeda dengan kehidupan di dunia karena Allah telah mencantumkan prinsip-prinsip tertentu untuk mencapai itu. Beberapa keunikan di hari akhirat adalah sebagai berikut:
- Kehidupan di akhirat, tidak seperti kehidupan di dunia yang terbatas. Kehidupan akhirat tidak terbatas dan bersifat abadi. Keabadian (khulud) inilah yang merupakan satu hal yang sangat membedakan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. [79]
- Manusia tidak akan diberi satu cuil pun kesempatan untuk rektifikasi kesalahan-kesalahannya dan tidak pula diijinkan untuk menambah satu kebaikan apapun ke dalam buku neraca amalnya. [80] Di hari kiamat manusia hanya akan menerima ganjaran dan balasan sesuai dengan apa yang dia lakukan sebelumnya. [81] Oleh sebab itulah Al-Qur'an memperingatkan manusia agar mempersiapkan segalanya untuk menghadapi hari akhir itu selama berada di duni. [82]
- Penyesalan dan taubat bagaimanapun ikhlasnya itu dilakukan oleh seseorang pada hari Akhir, tidak akan lagi membawa faedah. [83]
- Di sana tidak ada lagi yang namanya bargaining (tawar menawar), tidak juga broker (perantara), tidak pula persahabatan dan tidak akan ada bantuan dari yang lain. Apa yang disebut bantuan terhadap segala macam bencana dan kemalangan yang ada di dunia ini, tidak lagi berlaku di akhirat. [84]
- Prinsip tanggung jawab personal akan diterapkan tanpa ada eksepsi (pengecualian) sama sekali. [85] Tak seorang pun mampu memberikan tebusan atau pengganti. Cara demikian tidak lagi bisa dan tidak akan diterima. [86]
- Prosedur prosekusi (penuntutan) akan terdiri dari hitungan amal, timbangan perbuatan dan pengecekan semua rekor saksi-saksi dari tindakantindakan setiap orang. [87] Pada saat itu tidak akan ada kemungkinan bagi seseorang untuk mengelak dan lari serta menyatakan pernyataan palsu serta bukti yang bohong. [88] Dan yang paling mengejutkan bagi para pelaku kejahatan saat itu ialah bahwasanya organ-organ tubuhnya akan memberikan kesaksian atas apa yang pernah mereka lakukan di dunia. [89]
- Pengadilan akhir atas orang dan individu akan Allah umumkan. [90] Pengadilan itu akan merupakan pengadilan yang seadil-adilnya yang didasarkan atas hitungan yang akurat dan sempurna serta bukti-bukti yang tidak mungkin untuk ditolak. [91]
- Setiap perilaku, baik ataupun buruk, akan dihitung, yang atas dasar perhitungan itulah manusia akan mendapat 'bayaran' secara penuh tanpa sedikit pun dikurangi. [92] Saat itu tidak akan ada seorang manusia pun yang akan didzalimi. [93] Dan tak ada amal perbuatan seorang pun yang akan diingkari bahkan dikurangi. [94]
- Mereka yang dinilai sebagai orang yang lurus akan Allah berikan tempat tinggal abadi di dalam surga. [95] Sebaliknya orang-orang yang dianggap bersalah dan pendosa, mereka akan dipaksa untuk masuk ke dalam neraka. [96]
Pertama : Al-Qur'an menghadirkan Allah sebagai contoh utama kepada manusia dalam segala perilaku mereka. Setiap Muslim diperintahkan untuk meniru sifat-sifat Allah dalam kehidupan mereka, termasuk di dalamnya, perilaku bisnis mereka.
Kedua : Al-Qur'an secara jelas menggambarkan sifat-sifat Allah dan semua prinsip-prinsip yang Allah perintahkan. Semua ini tidak bisa tidak akan mempengaruhi pikiran dan perilaku seorang Muslim, dan menggiring mereka melakukan yang terbaik dan yang sesuai dengan sifat-sifat Allah itu. Manusia-manusia yang seperti ini akan sangat tidak terlalu membutuhkan kekuatan ataupun otoritas luar untuk selalu merasa diawasi tingkah lakunya (karena ia sadar bahwasanya Allah akan selalu tahu, mengawasi dan tidak lalai terhadap tingkah dan perilakunya, yang biasa dikenal dengan konsep muragabatullahi, pent).
Pengetahuan tentang sifat-sifat Allah dan semua prinsip yang Dia perintahkan akan membentuk sebuah pendahuluan yang vital pada konsep-konsep yang unik tentang bisnis yang Al-Qur'an tawarkan.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
(Selesai)
Referensi:
- Al-Qur'an : 6 : 1, 73, 101; 10 : 3 ; 16 : 4; 16: 4; 25 : 54; 55 :3; 36 : 71; 2 : 29 dan pada surat 11 : 61 dengan firman-Nya : “ista'marakum fiiha”
- Al-Qur'an : 14: 32 - 33; 16: 12; 22: 65; 45: 13.
- Al-Qur'an : 45: 13; 22: 26; 7 : 54.
- Al-Qur'an:2: 30; 6: 165.
- Al-Qur'an : 7 : 54: 13 : 2 ; 22 : 18; 35 : 13; 2 : 216; 30 : 26 dan 3 : 83.
- Al-Qur'an : 76: 3; 90: 10; 17: 15; 2 : 185: 18 : 29.
- Al-Qur'an : 2 : 256; 7 : 146: 87:3; 76: 3; 27 : 92 dan 2 : 185.
- Al-Qur'an : 33: 72. Yusuf Ali menyatakan: "Manusia dengan demikian hendaknya meniru sifat—sifat Allah (walaupun dalam bentuk dan kadar yang sangat kecil), dalam hal Kehendak, Kesabaran, Kasih, Sayang yang membuat dia dekat pada Allah yang juga bisa dilakukan oleh setiap makhluk Allah." Yusuf Ali, op.cit., 1130, no. 3782.
- Al-Qur'an : 3 : 186: 6 : 165; 7 :163; 8 : 28; 18: 7: 21 : 35: 47: 31: 57: 25: 7 : 129.
- Al-Qur'an : 33 : 72. `hamala' : yang berarti membawa, memikul (amanah tanggung jawab). Inilah makna yang biasa ditafsirkan oleh mayoritas mufassir".(Yusuf Ali, op.cit., 1130, no. 3780).
- Al-Qur'an : 2:2, 185; 17: 9. Al-Qur'an menyebut kode moral itu dengan hudan Ii al-naas (petunjuk bagi manusia). Menurut Fazlur Rahman. "Al-Qur'an adalah Kitab yang secara dasar ditujukan pada manusia"; "la mendesak manusia untuk melakukan keutamaan-keutamaan nilai dan rasa tanggung jawab moral yang kuat".
- Al-Qur'an : 2 : 256; 12: 111; 17:12; 6 : 114.
- Al-Qur'an : 6 : 106; 10: 109; 75: 18; 7 : 3; 39: 55.
- Al-Qur'an : 39: 55; 28:50; 42: 15; 2 : 208: 7: 3: 6 : 155.
- Al-Qur'an : 7 : 199; 3 : 104, 110. 114; 9 : 71: 43 : 32.
- Al-Qur'an : 2:233.286; 6 : 152; 23 :62.
- Al-Qur'an : 6 : 165; 17: 21; 21 : 35; 4 : 32: 16: 71: 43: 32.
- Al-Qur'an : 21 : 35; 18 : 7: 6 : 165: 3 : 186; 76 : 2: 67 : 2.
- Al-Qur'an : 6 : 132; 17 : 21; 18 : 7, 46: 29: 6. Namun rezki Allah, itu meliputi semua nikmat, tidak hanya diberikan pada orang-orang yang beriman dan berperilaku baik selama hidup nya di dunia. Rezki Allah itu terbuka untuk diperoleh oleh siapa saja, baik orang-orang yang beriman maupun orang yang tidak beriman (Lihat Al-Qur'an : 17 : 20).
- Al-Qur'an : 3 : 171; 7 : 170; 9 : 120: 11 : 11; 16 : 41; 29 : 58; 3 : 185; 3 : 57; 11 : 15. Allah akan membalas semua perbuatan manusia ini secara penuh, kadang kala di dunia ini, dan yang pasti semua hasil perbuatan itu akan didapat di Yaum al-Hisaab (Hari Perhitungan). Untuk mengetahui secara detail dan rinci, silahkan lihat, Torrey, op.cit. , 19.
- Al-Qur'an : 9 : 105; 23 : 51; 34 : 11. Untuk lebih jelasnya lihat bab 2 dalam buku ini tentang sikap Al-Qur'an terhadap kerja.
- Al-Qur'an : 17 : 18-20, 30; 40: 58; 3 : 195; 9 : 94.
- Al-Qur'an : 30 : 41. Allah tidak suka fasad (kerusakan). yaitu tindakan koruptif dalam segala bentuknya. Hal ini bisa kita lihat di dalam Al-Qur'an pada : 2 : 205 dan 5 : 67. Saat mengomentari ayat 41 surat Ar-Ruum ini. Khallaf menyatakan bahwasanya, "Allah tidak suka terhadap semua pekerjaan jahat (evil-doing), yaitu tindakan-tindakan koruptif. Sebab semua kerusakan di dunia ini adalah tidak lain karena akibat tindakan manusia sendiri. Tatkala manusia melenceng dari jalan yang benar, Allah akan memberikan balasan untuk "mencicipi" akibat dari perbuatannya yang menyimpang tersebut" (Lihat Khallaf, op. cit. , 35). Fazlur Rahman juga menekankan tentang pentingnya kerja. Merupakan sebuah prinsip dan aturan main Tuhan bahwasanya semua apa yang menimpa manusia adalah konsekuensi dari perbuatan yang dia lakukan sebelumnya. Tak ada yang diperoleh manusia kecuali dari hasil buah tangannya yang dia lakukan (Untuk lebih jelasnya lihat. Fazlur Rahman, op.cit., 108).
- Al-Qur'an : 5 : 42: 6:54; 19: 60; 20: 82; 25 :70: 28: 67: 2 : 160; 3 :89; 11 :52; 11 : 90.
- AI-Qur'an : 4 : 77: 6:32; 9 : 38, 13 : 26: 29: 64; 18:46; 57 : 20; 16 : 117.
- Al-Qur'an : 3 : 185: 6 : 32; 29 : 64: 35 : 5; 57 : 20.
- Al-Qur'an : 6 : 2, 60; 7 :34: 10:49: 11 :3; 71 : 4; 23 : 43; 63 : 11: 34 :30; 16: 61.
- Al-Qur'an : 3 : 145, 185, 4 : 78: 21:35; 33: 16; 62 : 6; 39 : 20.
- Al-Qur'an : 4 : 77; 55 : 26.
- Al-Qur'an : 18: 99; 36: 51: 39 : 68; 78: 18. Izutsu telah mengkomparasikan hubungan antara dunia dan akhirat dengan hubungan antara suami dan isteri. Dia menulis : " Seorang laki-laki bisa dinyatakan sebagai seorang suami jika dia memiliki isteri. Konsep tentang suami ini, secara implisit mengandung makna tentang konsep adanya isteri dan sebaliknya. Demikian jugalah dengan konsep tentang dunia telah mengantarkan pada konsep tentang Hari Akhir. Al-Qur'an demikian konsern dengan adanya korelasi ini, sehingga dengan demikian dia menyebutkan dua kata itu secara bersamaan. Atau Dia sebutkan dalarn sebuah "nafas" dan nuansa yang sama. Lihat misalnya pada surat 8 : 67 (Izutsu, op.cit., 85).
- Al-Qur'an : 28: 77; 59: 18; 78:40: 82: 5; 89: 24; 2 : 110, 245; 73 : 20: 3 : 30; 17: 21.
- Al-Qur'an: 23 : 99- 101.7: 53; 32: 12- 14; 35 : 37; 11 : 93; 39: 93; 29 : 58.
- Al-Qur'an : 3 : 30; 16 : 111; 39 : 70; 18 : 49. Esensi Akhirat adalah akan bergantung pada sejauh mana usaha yang telah dilakukan manusia ini di dunia. Dan setiap manusia akan memetik semua apa yang telah dia kerjakan di dunia. Oleh karenanya Al-Qur'an menekankan agar setiap manusia "send something for the morrow" (mengirimkan sesuatu untuk hari esok). Lihat Al—Qur'an : 59: 18; dan lihat juga Fazlur Rahman, op.cit., 108.
- Al-Qur'an : 43: 19, 80; 82: 11; 78: 29; 17: 14; 69: 19, 25; 21 : 4; 58: 1; 10: 61.
- Al-Qur'an : 6:73; 9 : 105; 13:9: 23 : 93; 35 : 38; 21 : 81; 17 : 25; 2 : 29, 137; 8:43.; 5 : 112. Saat berbicara tentang sistem yang ada di dalam Al-Qur'an Izutsu mengungkap bahwasanya seluruh kegiatan manusia, bahkan hitungan detik dan menit dan sesuatu yang tampaknya tidak begitu penting di mata manusia, akan selalu ada di bawah pengawasan ketat Allah. " (Izutsu: op.cit., 129).
- Al-Qur'an : 57: 4; 20: 46; 4 : 108; 58: 7.
- A1-Qur'an : 30: 40; 2 : 29; 36 : 42, 71; 17: 20: 38: 39. Segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah pemberian Allah, dimana dia dituntut untuk bisa bersyukur. Izutsu menyatakan ballwasanya. "kesadaran manusia akan ketergantungannya pada Tuhan adalah sebuah awal keimanan yang benar." (Lihat Izutsu : op.cit.. 129.
- Al-Qur'an : 9 : 111. Torrey menyebutkan bahwa ide tentang "jual beli" antara manusia dan Tuhan bukanlah hal yang asing bahkan di dalam ajaran kitab-kitab Yahudi dan Kristen. Walaupun dia dengan panjang lebar membahas ini, namun ada satu hal yang sangat menarik saat dia mengatakan tentang dealing Allah dengan manusia. Dia berkata "Hubungan antara Allah dan manusia memiliki watak komersial yang ketat. Allah adalah "Pedagang" yang ideal. Seluruh semesta berada di bawah perhitungan-Nya. Semua hal dihitung dan diukur. Buku (Al-Kitab) dan Timbangan (Al-Mizaan) adalah institusi-Nya. Dan Dia sendiri adalah sebagai dzat yang jujur dalam melakukan dealing. Kehidupan adalah sebuah bisnis, yang bisa untuk untung dan bisa pula rugi. Siapa saja yang melakukan kebaikan dan kejahatan, maka dia harus membayar ongkos perbuatannya itu, bahkan mungkin di dunia. Mungkin hutang dari tindakannya itu masih bisa diampuni, karena Allah bukanlah "Kreditur" yang keras. Kaum Muslimin memberikan "pinjaman" pada Allah, yang mereka bayarkan diawal untuk memperoleh Surga, dia menjual jiwanya pada-Nya, satu bargaining yang mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya orang-orang yang tidak beriman telah menggadaikan kebenaran Ilahi dengan harga yang murah, dan dia bangkrut. Setiap jiwa adalah jaminan terhadap hutang yang dia kontrakkan. Di Hari Kemudian Allah akan melakukan penghitungan terhadap setiap manusia. Aksi-aksi mereka di dunia akan dibacakan di dalam sebuah buku neraca, akan ditimbang di atas Mizan, setiap mereka akan dibayar sesuai dengan apa yang telah dikerjakan, tidak ada seorang pun yang akan dirugikan. Orang beriman dan tidak beriman akan mendapat ganjarannya. Kaum Muslimin (yang menerima banyak ganjaran atas semua amal kerjanya) akan menerima pahala yang demikian spesial. " Torrey, op.cit., 48.
- Al-Quraan : 22: 14, 23, 50, 56; 29: 66: 30: 40; 45: 26; 29: 57; 6 : 36; 7 : 57; 30: 50.
- Al-Qur’an : 19: 66 - 68; 16: 38; 2:28; 22: 66; 30: 40; 45: 26; 29:57: 6 : 36; 7:57;30: 50
- Al-Qur’an : 39: 68; 2 : 4; 4 : 77; 93: 4. Ajal di dalam welstanchung Quraani bukanlah titik terminal (pemberhentian) sesungguhnya dari wujud manusia. Ini hanyalah merupakan suatu ambang batas untuk menuju sebuah kehidupan yang sama sekali baru dan kekal (khulud).Lihat :Izutsu, op.cit., 130.
- Al-Qur'an : 2 : 245; 3 : 30, 77; 6 : 164; 39 : 7; 41 : 21; 58 : 6; 69 : 18 - 26; 83 : 5 - 6; 7 : 169: 11 : 19: 16: 60: 29: 64; 87: 17; 22: 7; 40: 59.
- Al-Qur'an : 44:56; 25 : 15; 4 : 14.77;2: 25; 43:71; 9 : 38; 72: 23; 50 : 34; 98: 6; 29: 64; 87 : 17.
- Al-Qur'an : 2 : 167; 26: 102; 39: 58; 32: 12-14;23: 99; 6 : 158
- Al-Qur'an : 20 : 15;40: 17-745: 22; 10: 52; 36: 54; 45: 28; 66: 7; 8:51;22: 10
- Al-Qur'an : 59 : 18: 78 : 40; 89 : 24; 2 : 110, 223; 73 : 20. Perbuatan baik yang dilakukan manusia di dunia ini Allah ambil sebagai bayaran awal (prabayar) untuk kehidupan Akhirat nanti. Dan manusia yang telah membayar di awal itu akan mendapatkan ganjaran dari Allah sesuai dengan apa yang dia bayarkan sebelumnya itu. Ini adalah laksana "hutang" yang diberikan pada Allah, yang nantinya akan Allah bayar. (Torrey, op.cit., 45)
- Al-Qur'an : 26 : 96 - 102, 39 : 54 -59; 3:90; 32 : 12 - 14; 35 : 37.
- Al-Qur'an : 2 : 123, 254-255; 74 : 48; 6 : 51, 70; 32 : 4: 40: 18; 30 : 13: 2 : 48.
- Al-Qur'an : 17 : 15; 39:7, 80 : 34-37; 2 : 48. 123, 134, 141, 281; 3 : 25.30; 10 : 30: 16 : 111; 82 : 19: 31 : 33. "Al-Qur'an secara berulang-ulang menyatakan bahwasanya setiap individu, laki-laki dan perempuan, bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan. Satu ajaran Al-Qur'an yang menolak penebusan dosa oleh orang lain (Lihat : Fazlur Rahman op.cit.. 19.
- 86. Al-Qur'an : 2 : 123: 17 : 15; 39 : 7; 2:254; 3 : 91: 70 : 10 - 15: 5 : 39: 57 : 15. Lihat juga, Torrey, op.cit., 17.
- Al-Qur'an : 99:4 -5: 21 : 47, 94; 7 : 8-9: 41 :20-21:36:65: 11 : 18: 40: 51: 4:41-42,= 10: 46: 5 : 120; 22: 17; 56: 143; 4 : 159; 16: 84 : 22:78: 28: 75; 2 : 202,284; 84:8: 6 : 62; 3 : 19; 13: 18, 40. 14: 41; 23: 117; 88:26; 4 :86.
- Al-Qur'an : 20:74; 36: 65; 39: 60; 67: 9: 74: 46; 55: 41.
- Al-Qur'an : 41 : 20 - 21; 36: 65. Lihat juga Fazlur Rahman, op. cit. , 110.
- Al-Qur'an : 22: 17, 56 - 57; 40: 48; 3 : 55; 2 : 113; 13: 41; 60: 10
- Al-Qur'an : 21 : 47; 657; 60: 10; 10: 109; 95 :8; 13 : 40; 40: 17; 4 : 86; 72: 28; 58: 6; 18: 49; 36: 12; 78: 29.
- Al-Qur'an : 3 :30; 6 : 160; 2 : 22-t: 3 : 25; 39: 70; 21 : 47, 94; 16: 111; 99: 8. Tentang konsep perbuatan sebagai satu-satunya barang dagangan di Akhirat, lihat Fazlur Rahman, op.cit., 109 dan Torrey, op.cit., 16-17.
- Al-Qur'an : 4 : 77; 6 : 160; 2 : 272, 179, 3 : 25; 21 : 47; 16: 111„ 39: 70. Lihat juga Torrey, op.cit., 32.
- Al-Qur'an : 21 :94; 99: 7 - 8; 11 : 109; 3 : 171; 7 : 170; 9 : 120; 18 :30; 3 :57; 4 : 173
- Al-Qur'an : 4 : 124; 19 : 60; 13 : 23; 16 : 31; 35 : 33; 7 : 49: 39 : 73; 50: 34; 4 : 57; 58 : 22: 2: 25; 3 : 136, 198.
- Al-Qur'an : 40 : 60.76; 16: 29; 39: 72; 4 : 14: 59:17; 2 : 39, 81, 217, 257; 3 : 116; 5 : 83 ; 13 : 5; 72 : 23. Izutsu mengatakan, "bahwasanya konsep tentang Surga dan Neraka yang ada di dalam Al-Qur'an secara langsung berhubungan dengan kehidupan manusia di atas dunia ini. Hal ini sangat berhubungan dengan nilai-nilai moral manusia. Manusia selama berada di dunia disarankan dengan sangat untuk selalu memilih jalan-jalan menuju Surga dan menjauhi jalan—jalan yang mengantarkan ke Neraka" (Lihat Izutsu, op.cit.. 89)
http://www.eramuslim.com/syariah/ekonomi-islam/syamsul-balda-wakil-ketua-umum-syabakah-asma-ul-husna-dan-bisnis-2.htm
Asma-ul Husna dan Bisnis (1)
Berbicara tentang bisnis dalam Islam tidak mungkin dilepaskan dari konsep Islam tentang Tuhan (Allah), dengan menekankan pada sifat-sifat Allah dan perbuatanNya terhadap alam dan manusia. Ada dua alasan utama yang mendasari mengapa bahasan ini harus dikemukakan.
Pertama, untuk memperlihatkan contoh teknis perilaku dengan mengemukakan sifat-sifat Tuhan, yang merupakan contoh terbaik dalam hal berbuat baik. Kedua, untuk memperoleh visi yang jelas tentang prinsip-prinsip "perintah langit" yang diharuskan dalam kehidupan manusia, dimana seorang pelaku bisnis Muslim harus senantiasa menyadarinya di segala waktu dan dalam segala urusan. Untuk lebih jelasnya mari kita simak sebagian deari firman Allah di bawah ini:
"Dialah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang inengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Se¬jahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. Dialah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik (Asma ul-husna). Ber¬tasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Hasyr : 22 -24).
"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa- penguasa di muka bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat azdab-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-An' aam: 165).
"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang yang kafir itulah orang yang zhalim." (Al-Baqarah : 254).
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah per¬mainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadiid : 20).
Allah adalah nama Tuhan yang disebutkan lebih dari 2.500 kali di dalam Al-Qur'an. [1] Allah adalah Pencipta dan Wujud Yang Maha Tinggi (Supreme Being). [2] Dengan demikian, sangatlah logis, sebagaimana yang secara benar dinyatakan Toshihiku Izutsu, Allah menjadi kata yang demikian mendapat fokus dalam kosa kata Al-Qur'an. [3] Sebagai tambahan terhadap nama Allah ini, Al-Qur'an juga membicarakan tentang sifat-sifat Allah, yang biasa dikenal dengan sebutan Asma-ul Husna (nama-nama indah), yang jumlahnya sebanyak 99 nama. [4]
Al-Qur'an menerangkan pada kita semua, bahwa Allah adalah Pencipta Alam semesta yang maha luas, dimana manusia merupakan bagian yang sangat kecil di semesta tersebut, [5] meskipun demikian ia memiliki hal yang unik dan menempati posisi yang sangat istimewa, [6] dimana manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. [7] Dengan demikian, manusia diberi amanah dan tanggung jawab di dunia untuk mewujudkan kehendak Ilahi dalam bidang moral. [8]
Agar manusia mampu melaksanakan tanggung jawab ini secara baik, maka manusia membutuhkan pengetahuan tentang Allah secara akurat, tentang sifat-sifat-Nya, tentang prinsip-prinsip yang Dia gariskan untuk mengatur alam ini secara umum dan kehidupan manusia secara khusus. Semua pengetahuan yang sangat vital ini telah Al-Qur' an sediakan. [9]
Apa yang tertera di dalam Al-Qur' an tidaklah bertujuan hanya sekedar informasi namun lebih dari itu ia bertujuan untuk merubah cara pandang manusia dan karakter mereka. Saat membicarakan tentang aspek ini Fazlur Rahman menyatakan, "Al-Qur' an itu bukan hanya sekedar sebuah Kitab Suci yang deskriptif, namun utamanya adalah sebuah Kitab Suci yang preskriptif. Baik isi risalah yang ada di dalamnya maupun kekuatan formatnya adalah didesain bukan hanya sebagai informasi bagi umat manusia, namun lebih dari itu ia adalah untuk mengubah karakter mereka. Dampak psikologis dan kandungan moral dari pesan-pesan Al-Qur' an adalah yang memainkan peran utama". [10]
Dampak psikologis dan kandungan moral yang ada inilah yang mengajak kita semua untuk memusatkan perhatian kita tentang pernyataan-pernyataan Al-Qur'an yang bersangkut paut dengan sifat-sifat Allah dan prinsip-prinsip yang mendasari tindakan-Nya.
Asma-ul Husna (Nama-nama Allah Yang Indah)
Dari 99 Asma ul Husna yang melukiskan sifat-sifat Allah, seperti yang telah disebutkan di muka, paling tidak 56 di antaranya memiliki relevansi dengan bisnis. [11] Dalam pandangan seorang Muslim sifat-sifat Allah itu adalah standard etik dalam perilakunya. Itulah sebabnya mengapa kaum Muslimin dituntut untuk merealisasikan nilai-nilai implisit yang ada dalam karakter-karakter ataupun sifat-sifat Allah. [12]
Keimanan kepada Allah, kepada sifat-sifat dan inayah-Nya, tidak hanya mengontrol shalatnya sehari-hari, puasa, zakat dan hajinya, namun keimanan itu pulalah yang mengontrol perilaku bisnis seorang Muslim di pasar. [13]
Sifat-sifat Allah di bawah ini dipilih dengan dua alasan utama. Pertama, sifat-sifat itu sesuai dengan situasi manusia, dan jika dia mau, dia bisa meniru sifat itu dalam kadar yang sesuai dengan kemampuannya. Kedua, dengan mengerti sifat-sifat Allah itu secara sempurna dan komprehensif akan banyak membantu manusia untuk melakukan hal-hal yang baik dan menghindarkannya dari perbuatan-perbuatan tercela dalam bisnis. Asma-ul Husna yang diseleksi adalah sebagai berikut:
Al-Haqq = Yang Maha Benar
Al Adl = Yang Maha Adil
Al-Mugsith = Yang Maha Adil
Al- Barr = Yang Maha Melimpahkan Kebaikan
As-Salaam = Yang Maha Sejahtera
Al-Hadi = Yang Maha Memberi Petunjuk
Ar-Rasyiid = Yang Maha Memberi Petunjuk
Al-Wakiil = Yang Maha Pelindung
Al-Hakiim = Yang Maha Bijaksana
Al-Khabiir = Yang Maha Mengetahui
Al Aliim = Yang Maha Mengetahui
Al-L at hi if = Yang Maha Lembut
As-Samii' = Yang Maha Mendengar
Al-Bashiir = Yang Maha Melihat
Asy-Syahiid = Yang Maha Menyaksikan
Ar-Raqiib = Yang Maha Dekat
Al-Waajid = Yang Maha Kaya, Pencipta dan Mengadakan
Al-Mu'min = Yang Mengaruniakan Keamanan
Al-Muhaimin = Yang Maha Memelihara
Al-Hafizh = Yang Maha Menjaga
Al-Qawiy = Yang Maha Kuat
Al-Matiin = Yang Maha Kokoh
Ar-Rahmaan = Yang Maha Pengasih
Al-Ghaffaar = Yang Maha Pengampun
Al-Ghafuur = Yang Maha Pengampun
Al-'Afw = Yang Maha Pemaaf
At-Tawwaab = Yang Maha Pemberi Taubat
Al-Haliim = Yang Maha Penyantun
As-Shabuur = Yang Maha Sabar
Ar-Rauuf = Yang Maha Pengasih
Al-Kariim = Yang Maha Mulia
Asy-Syakuur = Yang Maha Pembalas Jasa
Al-Qudduus = Yang Maha Suci
Al-Waduud = Yang Maha Kasih
Al-Wali = Yang Maha Pelindung
al-Mulk = Maha Raja Diraja
Al-Mugaddim = Yang Mengawalkan
Al-Mu'akkhir = Yang Mengakhirkan
Al-Mu'thi = Yang Maha Pemberi
Al-Maani' = Yang Maha Pencegah
Al-Qabidh = Yang Maha Mengekang
Al-Basith = Yang Maha Melapangkan
Al-Mugiit = Yang Maha Pemberi
Al-Ghani = Yang Maha Kaya
Al-Mughni = Yang Mengkayakan
Ar-Razzaaq = Yang Maha Pemberi Rizki
Al-Fattaah = Yang Maha Pemberi Keputusan
An-Nafi' = Yang Memberi Manfaat
Al-Wahhaab = Yang Maha Pemberi
Al-Mujiib = Yang Maha Menjawab permohonan
Al-Hasiib = Yang Maha Awas
Al-Mush = Yang Maha Penghitung
Al-Jami' = Yang Maha Mengumpulkan
Al-Hakam = Yang Maha Adil
Sifat-sifat Allah Secara Umum
Karena Allah berada di luar batas persepsi manusia, [14] maka pengetahuan kita tentang Allah itu sangat terbatas dan dibatasi dengan deskripsi yang ada di dalam Al-Qur'an. Tatkala kita melakukan studi terhadap Nama-nama Indah Allah (Asma-ul Husna) dalam hubungannya dengan karakteristik-Nya yang lain yang disebutkan di dalam Al-Qur'an, maka kita akan mendapatkan gambaran hal-hal sebagai berikut: bahwasanya Allah adalah Sang Maha Pencipta dan Dialah satu-satunya yang memberi kehidupan dan kematian; [15] bahwasanya Dia adalah Pemberi rezki yang menanggung rizki hamba-hambaNya; [16] bahwasanya Dia adalah Maha Benar, [17] cinta kebenaran dan benci kebohongan; [18] bahwa Dia Maha Jujur dan senang kejujuran, benci kecurangan tipu daya dan mengingkari amanah; [19] bahwa Dia tidak bisa ditipu dan dicurangi; [20] bahwasanya Dia itu adalah Maha Adil, cinta keadilan dan benci segala bentuk kezhaliman; [21] bahwa Dia adalah dzat Yang Maha Lembut, [22] yang mengampuni taubat dan permohonan maaf; [23] bahwa Dia lebih senang pada nasehat-nasehat yang baik; [24] bahwasanya Allah memenuhi janji-janji-Nya, [25] Dia benci segala bentuk pengingkaran janji dan sumpah; [26] Dia menghargai dan akan mengganjar semua perbuatan baik; [27] Dia selalu berjalan dengan Sunnah-Nya; [28] dan Dia tidak aka pernah menyimpang dari Sunnah-Nya. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu dan Dia sendirilah yang menjadi saksi terhadap semua janji, kontrak dan semua urusan yang dilakukan oleh manusia; [29] Dia akan membangkitkan manusia kembali dan akan menghitung amal-amal mereka; [30] bahwasanya timbangan (mizan) dan ukuran (qadar) adalah institusiNya; [31] Dia akan menimbang semua pekerjaan yang kecil maupun yang besar; [32] Dia akan mengadakan perhitungan itu dengan akurat dan detail terhadap amal setiap individu; [33] Dia adalah dzat Yang Maha Cepat dalam perhitungan; [34] dan Dia adalah Hakim Terakhir Yang Maha Adil; [35] Dia adalah pemegang kekuasaan mutlak apakah Dia akan menghukum ataupun mengampuni orang-orang yang melakukan perbuatan dosa. [36]
(bersambung)
Referensi:
http://www.eramuslim.com/syariah/ekonomi-islam/syamsul-balda-wakil-ketua-umum-syabakah-asma-ul-husna-dan-bisnis-1.htm
Pertama, untuk memperlihatkan contoh teknis perilaku dengan mengemukakan sifat-sifat Tuhan, yang merupakan contoh terbaik dalam hal berbuat baik. Kedua, untuk memperoleh visi yang jelas tentang prinsip-prinsip "perintah langit" yang diharuskan dalam kehidupan manusia, dimana seorang pelaku bisnis Muslim harus senantiasa menyadarinya di segala waktu dan dalam segala urusan. Untuk lebih jelasnya mari kita simak sebagian deari firman Allah di bawah ini:
"Dialah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang inengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Se¬jahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan. Dialah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik (Asma ul-husna). Ber¬tasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Hasyr : 22 -24).
"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa- penguasa di muka bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat azdab-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-An' aam: 165).
"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang yang kafir itulah orang yang zhalim." (Al-Baqarah : 254).
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah per¬mainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadiid : 20).
Allah adalah nama Tuhan yang disebutkan lebih dari 2.500 kali di dalam Al-Qur'an. [1] Allah adalah Pencipta dan Wujud Yang Maha Tinggi (Supreme Being). [2] Dengan demikian, sangatlah logis, sebagaimana yang secara benar dinyatakan Toshihiku Izutsu, Allah menjadi kata yang demikian mendapat fokus dalam kosa kata Al-Qur'an. [3] Sebagai tambahan terhadap nama Allah ini, Al-Qur'an juga membicarakan tentang sifat-sifat Allah, yang biasa dikenal dengan sebutan Asma-ul Husna (nama-nama indah), yang jumlahnya sebanyak 99 nama. [4]
Al-Qur'an menerangkan pada kita semua, bahwa Allah adalah Pencipta Alam semesta yang maha luas, dimana manusia merupakan bagian yang sangat kecil di semesta tersebut, [5] meskipun demikian ia memiliki hal yang unik dan menempati posisi yang sangat istimewa, [6] dimana manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. [7] Dengan demikian, manusia diberi amanah dan tanggung jawab di dunia untuk mewujudkan kehendak Ilahi dalam bidang moral. [8]
Agar manusia mampu melaksanakan tanggung jawab ini secara baik, maka manusia membutuhkan pengetahuan tentang Allah secara akurat, tentang sifat-sifat-Nya, tentang prinsip-prinsip yang Dia gariskan untuk mengatur alam ini secara umum dan kehidupan manusia secara khusus. Semua pengetahuan yang sangat vital ini telah Al-Qur' an sediakan. [9]
Apa yang tertera di dalam Al-Qur' an tidaklah bertujuan hanya sekedar informasi namun lebih dari itu ia bertujuan untuk merubah cara pandang manusia dan karakter mereka. Saat membicarakan tentang aspek ini Fazlur Rahman menyatakan, "Al-Qur' an itu bukan hanya sekedar sebuah Kitab Suci yang deskriptif, namun utamanya adalah sebuah Kitab Suci yang preskriptif. Baik isi risalah yang ada di dalamnya maupun kekuatan formatnya adalah didesain bukan hanya sebagai informasi bagi umat manusia, namun lebih dari itu ia adalah untuk mengubah karakter mereka. Dampak psikologis dan kandungan moral dari pesan-pesan Al-Qur' an adalah yang memainkan peran utama". [10]
Dampak psikologis dan kandungan moral yang ada inilah yang mengajak kita semua untuk memusatkan perhatian kita tentang pernyataan-pernyataan Al-Qur'an yang bersangkut paut dengan sifat-sifat Allah dan prinsip-prinsip yang mendasari tindakan-Nya.
Asma-ul Husna (Nama-nama Allah Yang Indah)
Dari 99 Asma ul Husna yang melukiskan sifat-sifat Allah, seperti yang telah disebutkan di muka, paling tidak 56 di antaranya memiliki relevansi dengan bisnis. [11] Dalam pandangan seorang Muslim sifat-sifat Allah itu adalah standard etik dalam perilakunya. Itulah sebabnya mengapa kaum Muslimin dituntut untuk merealisasikan nilai-nilai implisit yang ada dalam karakter-karakter ataupun sifat-sifat Allah. [12]
Keimanan kepada Allah, kepada sifat-sifat dan inayah-Nya, tidak hanya mengontrol shalatnya sehari-hari, puasa, zakat dan hajinya, namun keimanan itu pulalah yang mengontrol perilaku bisnis seorang Muslim di pasar. [13]
Sifat-sifat Allah di bawah ini dipilih dengan dua alasan utama. Pertama, sifat-sifat itu sesuai dengan situasi manusia, dan jika dia mau, dia bisa meniru sifat itu dalam kadar yang sesuai dengan kemampuannya. Kedua, dengan mengerti sifat-sifat Allah itu secara sempurna dan komprehensif akan banyak membantu manusia untuk melakukan hal-hal yang baik dan menghindarkannya dari perbuatan-perbuatan tercela dalam bisnis. Asma-ul Husna yang diseleksi adalah sebagai berikut:
Al-Haqq = Yang Maha Benar
Al Adl = Yang Maha Adil
Al-Mugsith = Yang Maha Adil
Al- Barr = Yang Maha Melimpahkan Kebaikan
As-Salaam = Yang Maha Sejahtera
Al-Hadi = Yang Maha Memberi Petunjuk
Ar-Rasyiid = Yang Maha Memberi Petunjuk
Al-Wakiil = Yang Maha Pelindung
Al-Hakiim = Yang Maha Bijaksana
Al-Khabiir = Yang Maha Mengetahui
Al Aliim = Yang Maha Mengetahui
Al-L at hi if = Yang Maha Lembut
As-Samii' = Yang Maha Mendengar
Al-Bashiir = Yang Maha Melihat
Asy-Syahiid = Yang Maha Menyaksikan
Ar-Raqiib = Yang Maha Dekat
Al-Waajid = Yang Maha Kaya, Pencipta dan Mengadakan
Al-Mu'min = Yang Mengaruniakan Keamanan
Al-Muhaimin = Yang Maha Memelihara
Al-Hafizh = Yang Maha Menjaga
Al-Qawiy = Yang Maha Kuat
Al-Matiin = Yang Maha Kokoh
Ar-Rahmaan = Yang Maha Pengasih
Al-Ghaffaar = Yang Maha Pengampun
Al-Ghafuur = Yang Maha Pengampun
Al-'Afw = Yang Maha Pemaaf
At-Tawwaab = Yang Maha Pemberi Taubat
Al-Haliim = Yang Maha Penyantun
As-Shabuur = Yang Maha Sabar
Ar-Rauuf = Yang Maha Pengasih
Al-Kariim = Yang Maha Mulia
Asy-Syakuur = Yang Maha Pembalas Jasa
Al-Qudduus = Yang Maha Suci
Al-Waduud = Yang Maha Kasih
Al-Wali = Yang Maha Pelindung
al-Mulk = Maha Raja Diraja
Al-Mugaddim = Yang Mengawalkan
Al-Mu'akkhir = Yang Mengakhirkan
Al-Mu'thi = Yang Maha Pemberi
Al-Maani' = Yang Maha Pencegah
Al-Qabidh = Yang Maha Mengekang
Al-Basith = Yang Maha Melapangkan
Al-Mugiit = Yang Maha Pemberi
Al-Ghani = Yang Maha Kaya
Al-Mughni = Yang Mengkayakan
Ar-Razzaaq = Yang Maha Pemberi Rizki
Al-Fattaah = Yang Maha Pemberi Keputusan
An-Nafi' = Yang Memberi Manfaat
Al-Wahhaab = Yang Maha Pemberi
Al-Mujiib = Yang Maha Menjawab permohonan
Al-Hasiib = Yang Maha Awas
Al-Mush = Yang Maha Penghitung
Al-Jami' = Yang Maha Mengumpulkan
Al-Hakam = Yang Maha Adil
Sifat-sifat Allah Secara Umum
Karena Allah berada di luar batas persepsi manusia, [14] maka pengetahuan kita tentang Allah itu sangat terbatas dan dibatasi dengan deskripsi yang ada di dalam Al-Qur'an. Tatkala kita melakukan studi terhadap Nama-nama Indah Allah (Asma-ul Husna) dalam hubungannya dengan karakteristik-Nya yang lain yang disebutkan di dalam Al-Qur'an, maka kita akan mendapatkan gambaran hal-hal sebagai berikut: bahwasanya Allah adalah Sang Maha Pencipta dan Dialah satu-satunya yang memberi kehidupan dan kematian; [15] bahwasanya Dia adalah Pemberi rezki yang menanggung rizki hamba-hambaNya; [16] bahwasanya Dia adalah Maha Benar, [17] cinta kebenaran dan benci kebohongan; [18] bahwa Dia Maha Jujur dan senang kejujuran, benci kecurangan tipu daya dan mengingkari amanah; [19] bahwa Dia tidak bisa ditipu dan dicurangi; [20] bahwasanya Dia itu adalah Maha Adil, cinta keadilan dan benci segala bentuk kezhaliman; [21] bahwa Dia adalah dzat Yang Maha Lembut, [22] yang mengampuni taubat dan permohonan maaf; [23] bahwa Dia lebih senang pada nasehat-nasehat yang baik; [24] bahwasanya Allah memenuhi janji-janji-Nya, [25] Dia benci segala bentuk pengingkaran janji dan sumpah; [26] Dia menghargai dan akan mengganjar semua perbuatan baik; [27] Dia selalu berjalan dengan Sunnah-Nya; [28] dan Dia tidak aka pernah menyimpang dari Sunnah-Nya. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu dan Dia sendirilah yang menjadi saksi terhadap semua janji, kontrak dan semua urusan yang dilakukan oleh manusia; [29] Dia akan membangkitkan manusia kembali dan akan menghitung amal-amal mereka; [30] bahwasanya timbangan (mizan) dan ukuran (qadar) adalah institusiNya; [31] Dia akan menimbang semua pekerjaan yang kecil maupun yang besar; [32] Dia akan mengadakan perhitungan itu dengan akurat dan detail terhadap amal setiap individu; [33] Dia adalah dzat Yang Maha Cepat dalam perhitungan; [34] dan Dia adalah Hakim Terakhir Yang Maha Adil; [35] Dia adalah pemegang kekuasaan mutlak apakah Dia akan menghukum ataupun mengampuni orang-orang yang melakukan perbuatan dosa. [36]
(bersambung)
Referensi:
- Fazlur Rahman. Major Themes of the Quran (Chicago : Bibliotheca Islamica, 1980, 1).
- Allah menurut Al-Quraan, tulis Izutsu. " bukan hanya sebagai yang supreme (Yang Maha Ting¬gi), namun la benar-benar Wujud yang benar-benar pantas disebut "Yang Maha Wujud" dalam arti kata yang sebenarnya". Toshihiko, God and Man in the Koran (Yew York : Books for Libraries. 1980, 75).
- "Allah adalah kata yang mendapat fokus istimewa di dalam Al-Qur'an. yang melampaui sernua medan semantik yang lain, dan tentunya semua sistem. " Ibid : hal 75.
- Ahmad Sakr, Al-Khuthab (Makkah : The Muslim World League, 1977, 153).
- Al-Qur'an : 6 : 1,73; 10: 3; 14: 19; 17:99;29:44;55:3;96: 1-2.
- Al-Qur'an : 17: 70; 95: 4.
- Al-Qur'an : 2 : 30; 6 : 165; 57: 7.
- Al-Qur'an : 33: 72. Salah satu kualitas yang membedakan manusia adalah bahwasanya Allah meniupkan roh-Nya pada manusia (Al-Qur'an :32: 9; 15: 29). Artinya ialah manusia diberi pilihan untuk memilih antara yang baik dan yang jelek. dan Allah menciptakan dalam diri manusia kesabaran, cinta dan belas kasihan. Dalam diri manusia terkandung makna kebesaran Tuhan: karena manusia pada hakikatnya adalah sebuah mikrokosmos (Yusuf Ali, op.cit., 1130, no.3781.
- Al-Qur'an : 96 :5. Saat berbicara tentang Allah, Fazlur Rahman mengatakan : "Eksistensi Allah, dalam Al-Qur'an, dengan tegas dinyatakan: "Dia adalah Pencipta dan Pemelihara semesta dan manusia. Dan secara khusus Dia adalah Pemberi petunjuk pada manusia dan Dia pula yang akan mengadili, baik secara individu maupun secara kolektif dan Allah memberikan padanya rahmat dan keadilan-Nya." (Fazlur Rahman : op.cit., 1).
- Ibid : 22 -23.
- Untuk mengetahui secara lengkap tentang Asma-ul Husna, Iihat Ahmad Syakir, op.cit. 153 - 58.
- Perkataan “Takhallaqu bi akhlaqillah” (Berakhlaklah kamu sebagaimana Akhlak Allah) adalah perkataan yang sangat masyhur di kalangan para sufi.
- Maulana Maududi menyatakan, "Keimanan kepada Allah, kepada sifat-sifat-Nya dan kepada prinsip-prinsip yang ada di dalam Al-Qur'an adalah sebagai pondasi awal dari perilaku seorang Muslim. Keimanan bukan saja mengontrol shalat, puasa, zakat dan hajinya seorang Muslim, namun ia juga mampu mengontrol perilaku bisnis di tengah pasar. Sayyid Abul A' la Maudu¬di, Mu'ayasyaati Islam. (Lahore : Islamic Publication, 1969, hal 163).
- Al-Qur'an : 6 : 103: 42: 11.
- Al-Qur'an : 30: 40. Al-Qur'an selalu memerintahkan kepada setiap Muslim untuk senantiasa secara konstan agar sadar akan esensi penciptaannya. Seorang Muslim yang kehilangan kesa¬daran akan anal penciptaannya, sesungguhnya prang tersebut tidak pantas lagi untuk menyan¬dang gelar sebagai Muslim dalam arti yang sesungguhnya. Dengan demikian kesadaran akan sangat berhubungan erat dengan masalah relasi hamba-Pencipta, yakni hubungan antara Allah dan manusia. (Izutsu, op.cit., 122).
- Al-Qur'an 6 : 151; 11 : 6; 30 : 40; 20: 123.
- Al-Qur'an : 6 : 115: 35 : 5; 51 : 5 - 6.
- Al-Qur'an : 19: 50; 39 : 32; 33 : 24; 9 : 119; 33 : 35.
- Al-Qur'an : 9 : 77: 3 : 9, 77. 161; 13 :31: 39: 20: 2 :9: 8 : 27.58; 22: 38; 4 : 107. Lihat juga Torrey, op.cit.. 18.
- AI-Qur'an : 2 : 9. Lihat juga Torrey. op.cit., 18.
- Al-Qur'an : 4 : 10, 40, 58: 5 : 9, 45; 6 : 115. 152, 160: 16 : 90; 21 : 47: 2 : 190, 279; 49 :9; 60 :8; 10: 54: 41: 46: 55 : 9: 57 : 25; 8 : 60; 3 : 108; 45 :
- Izutsu mendeskripsikan Allah sebagai : Tuhan keadilan yang tidak pernah melakukan kezhaliman pada siapa saja (Izutsu, op.cit.. 129).
- Al-Qur'an :5: 7; 6 : 152; 3 :30., Al-Qur'an : 9 : 104: 16 : 18: 35 :30.
- Al-Qur'an : 4 : 58.
- Al-Qur'an : 2:40; 9:11; 30:6; 31:33; 34: 3 - 4.
- Al-Qur'an : 5 : 92; 9:12; 16 : 91, 9:77; 8 :56; 6 : 152; 2 : 177; 2 : 27; 17 : 94; 23 : 8.
- Al-Qur'an : 2 : 268; 4 : 40: 8 : 28, 60; 9 : 120: 16 : 97; 21 : 105; 24:37, 38 dan 55; 28 :35; 30: 6; 47:5; 53: 40 -41: 55: 60.
- Al-Qur'an : 35 : 43.
- Al-Qur'an : 3 : 98; 4 : 33: 5 : 120; 10 : 61; 22 : 17: 58: 6 -7: 85 : 9. Lihat juga Fazlur Rah¬man, op.cit.. 37 - 38.
- Al-Qur'an ; 3 : 30: 58: 6: 39: 70: 69: 18 : 26. Lihat juga. Torrey, op.cit.. 129.
- Al-Qur'an : 42: 17; 55 : 7: 57: 25. Lihat, Torrey. op.cit.. 17.
- Al-Qur'an : 7 :8- 21 : 47; 7 : 8 - 9; 23: 102 -103: 101 : 6 - 8.
- Al-Qur'an : 72 : 28: 58 : 6: 18 : 49; 19 : 94: 36 : 12: 78 : 29. Mat Izutsu, op. cit. 129 dan Torrey, op.cit., 14- 15.
- Al-Qur'an : 6 : 62: 21 : 47: 2 :202; 3 : 19. 199: 13 : 41: 40 : 17. Juga lihat Torrey, op. cit., 11-12.
- Al-Qur'an :39: 3.7: 42 : 10: 60: 3, 10 dan 83 : 5 - 6.
- Al-Qur'an : 6 : 165: 10: 107: 47 : 38.
http://www.eramuslim.com/syariah/ekonomi-islam/syamsul-balda-wakil-ketua-umum-syabakah-asma-ul-husna-dan-bisnis-1.htm
Al-Qur'an Mengajak Berbisnis (2)
Frekuensi Penyebutan Kerja dalam Al-Qur'an
Al-Qur'an menyebutkan tentang kerja, dalam satu konteks dengan yang lainnya, dengan frekuensi yang sedemikian banyak. Bahkan hampir di setiap halaman Al-Qur'an ada yang mereferens pada kerja itu. Sebagai bukti adalah kita mendapatkan sebanyak 360 ayat yang membicarakan tentang amal dan 109 yang membicarakan tentang fi'il (dua kata itu sama-sama bermakna kerja dan aksi). [14] Selain dua kata itu, amal dan fi'il, beberapa terma lain yang di¬ambil dari akar kata yang juga menekankan pada aksi dan kerja kita dapatkan secara ekstensif, seperti akar kata (kasaba), (baghiya), (sa'aa) dan juga (jahada). Frekuensi penyebutan tentang kerja yang demikian banyak ini menunjukkan betapa pentingnya segala bentuk kerja kreatif dan aktivitas yang produktif di dalam Al-Qur'an.
Al Qur’an Mencela Pemalas dan Pengangguran
Al-Qur'an sangat menentang tindakan malas dan menyia-nyiakan waktu, baik berpangku tangan, tinggal diam atau melakukan hal-hal yang tidak produktif. Al-Qur'an selalu menyeru manusia untuk mempergunakan waktu sebaik mungkin dengan cara menginvestasikannya dalam hal-hal yang akan menguntungkan dan selalu mempergunakannya dalam tindakan-tindakan positif dan kerja produktif. Orang yang tidak mempergunakan waktunya secara baik akan dicela dan dimasukkan pada golongan orang-orang yang sangat merugi. [15]
Islam selalu menyerukan pada setiap orang untuk selalu bekerja dan ber¬juang, serta melarang segala bentuk kemalasan dan pengangguran. [16]
Muslim yang aktif bekerja diberikan sebuah posisi yang demikian penting, bahkan dispensasi dalam ibadah tertentu telah diberikan untuk memberikan kesempatan ia bekerja dengan baik. Ada sebuah pernyataan di dalam Al-Qur'an yang dengan tegas menyatakan dihapusnya sebuah kewajiban shalat tahajjud dalam rangka memberikan kesempatan pada umat Islam untuk melakukan kegiatan bisnisnya di siang hari dalam kondisinya yang segar bugar. [17] Al-Qur'an lebih lanjut menyebutkan bahwasanya siang hari itu adalah waktu dan sarana untuk mencari penghidupan. [18]
Kerja sebagai Satu-satunya Penentu Status Manusia
Dalam pandangan Abdul Hadi, kerja manusia adalah sumber nilai yang rill. Jika seseorang tidak bekerja maka dia tidak akan berguna dan tidak memiliki nilai, adalah sebuah ungkapan yang telah diproklamirkan Islam sejak lebih dari satu milenium yang lalu sebelum para ahli ekonomi klasik mene¬mukan fakta-fakta yang ada. [19] Dalam pandangan Al-Qur'an, kerja (amal) adalah yang menentukan posisi dan status seseorang dalam kehidupan. Sebagaimana hal tersebut diungkap di dalam ayat-ayat berikut:
“Dan tiap-tiap orang memperoleh derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Al-An' aam : 132).
"Dan setiap mereka mendapat derajat menurut apa yang telah mere¬ka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pe¬kerjaan pekerjaan mereka sedang mereka tidak dirugikan." (Al¬Ahqaaf : 19).
Dengan kata lain, kerja adalah satu-satunya kriteria, disamping Iman, dimana manusia bisa dinilai untuk mendapatkan pahala, penghargaan dan ganjaran.
Al-Qur'an penuh dan sering serta berkali-kali mendesak manusia untuk bekerja. Semua insentif yang ada diperuntukkan untuk manusia agar dia ter¬libat dalam semua aktivitas yang produktif. [20]
Al-Qur'an mendesak untuk kerja keras dan menjanjikan pertolongan Allah dan petunjuk-Nya bagi mereka yang berjuang dan bekerja dengan baik. [21] Dalam banyak ayatnya, Al-Qur'an menjanjikan pahala yang berlimpah bagi seorang yang bekerja dengan memberikan pada mereka insentif (reward) untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kerjanya. [22]
Al-Qur'an juga menyerukan pada semua orang yang memiliki kemampuan fisik untuk bekerja dalam usaha mencari sarana hidup untuk dirinya sendiri. Tak seorang pun dalam situasi normal, dibolehkan untuk meminta-minta atau menjadi beban kerabat, sahabat dan negara sekalipun. Al-Qur'an sangat menghargai mereka yang berjuang untuk mencapai dan memperoleh karunia Allah. Apa yang disebut karunia ini adalah meliputi segala macam sarana kehidupan. [23] Rasulullah mengajarkan pada umatnya agar setiap keluar dari mesjid hendaknya membaca: “Ya Allah! Saya mohon karunia-Mu.” Doa ini adalah sebagai peringatan dan sekaligus sebagai dorongan bagi umat Islam untuk selalu mencari dan berjuang mendapatkan sarana hidup. [24] Etika Islam, menurut Al-Faruqi, dengan jelas menentang segala bentuk minta-minta, menentang tindakan cara hidup parasit yang memakan keringat orang lain. Sunnah Rasulullah memaparkan pada kita bahwasanya bekerja giat sangatlah dihargai, sedangkan pengangguran sangatlah dikutuk. [25]
Rasulullah saw menyatakan bahwasanya orang yang mencari nafkah hidupnya untuk dirinya sendiri dan untuk saudaranya yang terus beribadah sepanjang waktu, lebih baik daripada saudaranya yang hanya beribadah dan tidak bekerja tersebut. [26] Memang ada pernyataan dari Allah bahwasanya para pengemis dan orang-orang yang miskin memiliki bagian dari harta orang-orang yang kaya. Allah menyatakan itu jika benar-benar mereka adalah orang yang berhak untuk mendapatkan bagian itu. [27] Namun itu bukan berarti bahwasanya mereka itu mendapat lisensi selamanya untuk tetap berpangku tangan dan menjadi tanggungan masyarakat secara permanen. "Cobalah ingat sebuah peristiwa yang terjadi pada seseorang bersama Rasulullah," tulis Malik bin Nabi, tatkala Rasulullah memberi nasehat pada seorang sahabatnya, dimana dia datang pada Rasululah meminta haknya. Rasulullah menyuruh dia pergi untuk mengambil kayu lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rasulullah ingin mengajarkan pada orang itu bahwa mencari rizki untuk menutupi hajat hidupnya melalui kerja keras lewat tangannya sendiri jauh lebih baik daripada menyandarkan pada "hak"nya tersebut. [28]
Penghormatan Islam Terhadap Kerja dan Pekerja
“Islam," tulis Abdal'ati, "menghormati segala bentuk pekerjaan untuk menghasilkan sarana hidup, sepanjang tidak ada ketidaksenonohan dan tindakan yang salah dan merugikan.” Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,
"Seseorang yang mengambil seutas tali, lalu memotong ranting pohon dan mengikatnya dengan tali itu, lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menyedekahkannya adalah lebih baik daripada meminta-minta pada orang lain. Baik orang yang dia minta itu memberi ataupun menolak." (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).
Rasulullah menyebutkan bahwa perilaku menggantungkan diri pada orang lain adalah "dosa (religous sin), cacat sosial (social stigma) dan tindakan yang sangat memalukan.” [29]
Perlu kiranya dicatat di sini bahwasanya kerja yang diwajibkan dan dianjurkan Islam adalah kerja yang berkualitas (amal saleh), yang baik dan produktif serta membawa manfaat. Bukannya sembarang kerja. Maka, setiap ajakan kerja dalam A-Qur'an akan selalu dibarengi dengan sifat yang saleh dan baik. [30] Yang juga pantas untuk menjadi catatan adalah bahwasanya semua pekerjaan, yang baik maupun yang buruk pastilah dimintai pertanggungjawabannya. Setiap orang akan memetik apa yang dia tanam. Sebagaimana firman Allah,
”Pada hari itu semua orang keluar dari kuburnya dalan keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat atom pun, niscaya dia akan mendapat (balasan)nya. Dan barang siapa yang inengerjakan kejahatan seberat atom pun, niscaya ia akan mendapat (balasan)nya.” (Az-Zalzalah : 6 -8). [31]
Al-Qur’an dan Bisnis
Bukti bahwa bisnis begitu penting tidak hanya ada dalam pernyataan, namun ia juga ada dalam sikap dan konsiderasi khusus yang disetujui Al-Qur'an.
Al-Qur'an menggunakan terminologi bisnis sedemikian ekstensif. Terma komersial ini, memiliki dua puluh macam terminologi, yang diulang sebanyak 370 kali di dalam Al-Qur'an. Terma-terma yang sedemikian banyak itu merupakan terma bisnis yang penelitiannya dilakukan C. C Torrey saat dia menulis disertasinya yang berjudul: The Commercial-Theological Terms in the Koran. Torrey menyatakan bahwasanya sebagian dari teologi Qur'an mengandung terma-terma bisnis. [33] Menurut Torrey, penggunaan terma bisnis yang sedemikian banyak itu menunjukkan sebuah manifestasi adanya sebuah spirit yang bersifat komersial dalam Al-Qur'an.
Bahwa Al-Qur'an memerintahkan bisnis dalam terma yang sangat eks¬plisit adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Lebih jauh kita mendapatkan banyak instruksi di dalam Al-Qur'an, dalam bentuknya yang sangat detail, tentang praktek bisnis yang dibolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Para pakar yang meneliti tentang hal-hal yang ada dalam Al-Qur'an sama-sama mengakui bahwa praktek perundang-undangan Al-Qur'an selalu berhubungan dengan transaksi. [34] Dengan ungkapan lain, ijin yang diberikan dengan berdasarkan pada perundang-undangan, merupakan salah satu bukti dan pertanda betapa aktivitas bisnis itu sangat penting menurut Al-Qur'an.
Haji ke tanah suci adalah satu pilar dan rukun Islam. la merupakan lam¬bang sebuah pengalaman religius dalam kehidupan seorang Muslim, karena ia menggabungkan dimensi ibadah manusia pada Allah secara fisik, spiritual dan materi. Namun demikian A1-Qur'an masih memberikan ijin berbisnis pada saat Haji itu [35] di sela-sela padatnya ritual ibadah tersebut. Artinya, sekali lagi, Al-Qur'an memandang bahwa aktivitas bisnis adalah sebuah aktivitas yang demikian penting.
Ajakan Berbisnis dalam Al-Qur’an
Al¬Qur'an penuh dengan ayat-ayat yang memotivasi manusia untuk melakukan aktivitas bisnis. Bisnis terutama perdagangan, menurut Al-Qur'an, adalah pekerjaan yang menguntungkan dan menyenangkan. Al-Qur'an kerap kali mengungkapkan bahwa perdagangan adalah sebuah pekerjaan yang paling menarik. [36] Al-Qur'an, tulis Torrey, dengan jelas menggambarkan perhatiannya yang besar dalam masalah perdagangan. [37] Kitab suci ini dengan lugas mendorong para pedagang untuk melakukan sebuah perjalanan yang jauh dan melakukan bisnis dengan para penduduk di negeri asing. Pekerjaan yang banyak menguntungkan ini dianggap sebagai sebuah karunia yang Allah berikan kepada orang-orang Quraisy. [38]
Al-Qur'an juga menekankan akan pentingnya alat-alat transportasi dan sarana pendukungnya (infrastruktur) yang akan memperlancar sebuah perjalanan bisnis. [39] Kapal disebut berulang-ulang di dalam Al-Qur'an dan dinyatakan sebagai karunia pada manusia, [40] dimana mereka diperintahkan untuk mempergunakannya dalam rangka mencari karunia Allah. [41]
Larangan Berbisnis dengan Tidak Jujur
Al-Qur'an sangat menghargai aktivitas bisnis yang jujur dan adil. Al-Qur'an berulang-ulang mencela dan melarang dengan keras segala bentuk praktek ketidakadilan dalam berbisnis. Tindakan yang tidak fair jauh lebih dikutuk daripada bentuk dosa-dosa yang lain. [42] Hal ini tentu menunjukkan betapa pentingnya sikap fair, jujur dan adil dalam aktivitas bisnis.
Disamping penghormatannya terhadap aktifitas bisnis yang fair, Al-Qur'an juga mengingatkan tentang makna kejujuran dan keadilan dalam perdagangan. Al-Qur'an sangat menghargai aktivitas bisnis dengan selalu menekankan kejujuran dalam hal bargaining. [43]
Banyak ayat di dalam Al-Qur'an yang menunjukkan sifat adil dan fair dinisbatkan pada Allah. Penisbatan sifat itu menunjukkan secara sempurna betapa pentingnya nilai keadilan dan kejujuran dalam Islam. Dimana Allah pun dalam memperlakukan hamba-Nya berdasarkan asas keadilan dan kejujuran tersebut. [44]
Wallahu a’lam bish-shawwab.
(Selesai)
Referensi:
Al-Qur'an menyebutkan tentang kerja, dalam satu konteks dengan yang lainnya, dengan frekuensi yang sedemikian banyak. Bahkan hampir di setiap halaman Al-Qur'an ada yang mereferens pada kerja itu. Sebagai bukti adalah kita mendapatkan sebanyak 360 ayat yang membicarakan tentang amal dan 109 yang membicarakan tentang fi'il (dua kata itu sama-sama bermakna kerja dan aksi). [14] Selain dua kata itu, amal dan fi'il, beberapa terma lain yang di¬ambil dari akar kata yang juga menekankan pada aksi dan kerja kita dapatkan secara ekstensif, seperti akar kata (kasaba), (baghiya), (sa'aa) dan juga (jahada). Frekuensi penyebutan tentang kerja yang demikian banyak ini menunjukkan betapa pentingnya segala bentuk kerja kreatif dan aktivitas yang produktif di dalam Al-Qur'an.
Al Qur’an Mencela Pemalas dan Pengangguran
Al-Qur'an sangat menentang tindakan malas dan menyia-nyiakan waktu, baik berpangku tangan, tinggal diam atau melakukan hal-hal yang tidak produktif. Al-Qur'an selalu menyeru manusia untuk mempergunakan waktu sebaik mungkin dengan cara menginvestasikannya dalam hal-hal yang akan menguntungkan dan selalu mempergunakannya dalam tindakan-tindakan positif dan kerja produktif. Orang yang tidak mempergunakan waktunya secara baik akan dicela dan dimasukkan pada golongan orang-orang yang sangat merugi. [15]
Islam selalu menyerukan pada setiap orang untuk selalu bekerja dan ber¬juang, serta melarang segala bentuk kemalasan dan pengangguran. [16]
Muslim yang aktif bekerja diberikan sebuah posisi yang demikian penting, bahkan dispensasi dalam ibadah tertentu telah diberikan untuk memberikan kesempatan ia bekerja dengan baik. Ada sebuah pernyataan di dalam Al-Qur'an yang dengan tegas menyatakan dihapusnya sebuah kewajiban shalat tahajjud dalam rangka memberikan kesempatan pada umat Islam untuk melakukan kegiatan bisnisnya di siang hari dalam kondisinya yang segar bugar. [17] Al-Qur'an lebih lanjut menyebutkan bahwasanya siang hari itu adalah waktu dan sarana untuk mencari penghidupan. [18]
Kerja sebagai Satu-satunya Penentu Status Manusia
Dalam pandangan Abdul Hadi, kerja manusia adalah sumber nilai yang rill. Jika seseorang tidak bekerja maka dia tidak akan berguna dan tidak memiliki nilai, adalah sebuah ungkapan yang telah diproklamirkan Islam sejak lebih dari satu milenium yang lalu sebelum para ahli ekonomi klasik mene¬mukan fakta-fakta yang ada. [19] Dalam pandangan Al-Qur'an, kerja (amal) adalah yang menentukan posisi dan status seseorang dalam kehidupan. Sebagaimana hal tersebut diungkap di dalam ayat-ayat berikut:
“Dan tiap-tiap orang memperoleh derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Al-An' aam : 132).
"Dan setiap mereka mendapat derajat menurut apa yang telah mere¬ka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pe¬kerjaan pekerjaan mereka sedang mereka tidak dirugikan." (Al¬Ahqaaf : 19).
Dengan kata lain, kerja adalah satu-satunya kriteria, disamping Iman, dimana manusia bisa dinilai untuk mendapatkan pahala, penghargaan dan ganjaran.
Al-Qur'an penuh dan sering serta berkali-kali mendesak manusia untuk bekerja. Semua insentif yang ada diperuntukkan untuk manusia agar dia ter¬libat dalam semua aktivitas yang produktif. [20]
Al-Qur'an mendesak untuk kerja keras dan menjanjikan pertolongan Allah dan petunjuk-Nya bagi mereka yang berjuang dan bekerja dengan baik. [21] Dalam banyak ayatnya, Al-Qur'an menjanjikan pahala yang berlimpah bagi seorang yang bekerja dengan memberikan pada mereka insentif (reward) untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kerjanya. [22]
Al-Qur'an juga menyerukan pada semua orang yang memiliki kemampuan fisik untuk bekerja dalam usaha mencari sarana hidup untuk dirinya sendiri. Tak seorang pun dalam situasi normal, dibolehkan untuk meminta-minta atau menjadi beban kerabat, sahabat dan negara sekalipun. Al-Qur'an sangat menghargai mereka yang berjuang untuk mencapai dan memperoleh karunia Allah. Apa yang disebut karunia ini adalah meliputi segala macam sarana kehidupan. [23] Rasulullah mengajarkan pada umatnya agar setiap keluar dari mesjid hendaknya membaca: “Ya Allah! Saya mohon karunia-Mu.” Doa ini adalah sebagai peringatan dan sekaligus sebagai dorongan bagi umat Islam untuk selalu mencari dan berjuang mendapatkan sarana hidup. [24] Etika Islam, menurut Al-Faruqi, dengan jelas menentang segala bentuk minta-minta, menentang tindakan cara hidup parasit yang memakan keringat orang lain. Sunnah Rasulullah memaparkan pada kita bahwasanya bekerja giat sangatlah dihargai, sedangkan pengangguran sangatlah dikutuk. [25]
Rasulullah saw menyatakan bahwasanya orang yang mencari nafkah hidupnya untuk dirinya sendiri dan untuk saudaranya yang terus beribadah sepanjang waktu, lebih baik daripada saudaranya yang hanya beribadah dan tidak bekerja tersebut. [26] Memang ada pernyataan dari Allah bahwasanya para pengemis dan orang-orang yang miskin memiliki bagian dari harta orang-orang yang kaya. Allah menyatakan itu jika benar-benar mereka adalah orang yang berhak untuk mendapatkan bagian itu. [27] Namun itu bukan berarti bahwasanya mereka itu mendapat lisensi selamanya untuk tetap berpangku tangan dan menjadi tanggungan masyarakat secara permanen. "Cobalah ingat sebuah peristiwa yang terjadi pada seseorang bersama Rasulullah," tulis Malik bin Nabi, tatkala Rasulullah memberi nasehat pada seorang sahabatnya, dimana dia datang pada Rasululah meminta haknya. Rasulullah menyuruh dia pergi untuk mengambil kayu lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rasulullah ingin mengajarkan pada orang itu bahwa mencari rizki untuk menutupi hajat hidupnya melalui kerja keras lewat tangannya sendiri jauh lebih baik daripada menyandarkan pada "hak"nya tersebut. [28]
Penghormatan Islam Terhadap Kerja dan Pekerja
“Islam," tulis Abdal'ati, "menghormati segala bentuk pekerjaan untuk menghasilkan sarana hidup, sepanjang tidak ada ketidaksenonohan dan tindakan yang salah dan merugikan.” Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,
"Seseorang yang mengambil seutas tali, lalu memotong ranting pohon dan mengikatnya dengan tali itu, lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menyedekahkannya adalah lebih baik daripada meminta-minta pada orang lain. Baik orang yang dia minta itu memberi ataupun menolak." (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).
Rasulullah menyebutkan bahwa perilaku menggantungkan diri pada orang lain adalah "dosa (religous sin), cacat sosial (social stigma) dan tindakan yang sangat memalukan.” [29]
Perlu kiranya dicatat di sini bahwasanya kerja yang diwajibkan dan dianjurkan Islam adalah kerja yang berkualitas (amal saleh), yang baik dan produktif serta membawa manfaat. Bukannya sembarang kerja. Maka, setiap ajakan kerja dalam A-Qur'an akan selalu dibarengi dengan sifat yang saleh dan baik. [30] Yang juga pantas untuk menjadi catatan adalah bahwasanya semua pekerjaan, yang baik maupun yang buruk pastilah dimintai pertanggungjawabannya. Setiap orang akan memetik apa yang dia tanam. Sebagaimana firman Allah,
”Pada hari itu semua orang keluar dari kuburnya dalan keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat atom pun, niscaya dia akan mendapat (balasan)nya. Dan barang siapa yang inengerjakan kejahatan seberat atom pun, niscaya ia akan mendapat (balasan)nya.” (Az-Zalzalah : 6 -8). [31]
Al-Qur’an dan Bisnis
Bukti bahwa bisnis begitu penting tidak hanya ada dalam pernyataan, namun ia juga ada dalam sikap dan konsiderasi khusus yang disetujui Al-Qur'an.
Al-Qur'an menggunakan terminologi bisnis sedemikian ekstensif. Terma komersial ini, memiliki dua puluh macam terminologi, yang diulang sebanyak 370 kali di dalam Al-Qur'an. Terma-terma yang sedemikian banyak itu merupakan terma bisnis yang penelitiannya dilakukan C. C Torrey saat dia menulis disertasinya yang berjudul: The Commercial-Theological Terms in the Koran. Torrey menyatakan bahwasanya sebagian dari teologi Qur'an mengandung terma-terma bisnis. [33] Menurut Torrey, penggunaan terma bisnis yang sedemikian banyak itu menunjukkan sebuah manifestasi adanya sebuah spirit yang bersifat komersial dalam Al-Qur'an.
Bahwa Al-Qur'an memerintahkan bisnis dalam terma yang sangat eks¬plisit adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Lebih jauh kita mendapatkan banyak instruksi di dalam Al-Qur'an, dalam bentuknya yang sangat detail, tentang praktek bisnis yang dibolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Para pakar yang meneliti tentang hal-hal yang ada dalam Al-Qur'an sama-sama mengakui bahwa praktek perundang-undangan Al-Qur'an selalu berhubungan dengan transaksi. [34] Dengan ungkapan lain, ijin yang diberikan dengan berdasarkan pada perundang-undangan, merupakan salah satu bukti dan pertanda betapa aktivitas bisnis itu sangat penting menurut Al-Qur'an.
Haji ke tanah suci adalah satu pilar dan rukun Islam. la merupakan lam¬bang sebuah pengalaman religius dalam kehidupan seorang Muslim, karena ia menggabungkan dimensi ibadah manusia pada Allah secara fisik, spiritual dan materi. Namun demikian A1-Qur'an masih memberikan ijin berbisnis pada saat Haji itu [35] di sela-sela padatnya ritual ibadah tersebut. Artinya, sekali lagi, Al-Qur'an memandang bahwa aktivitas bisnis adalah sebuah aktivitas yang demikian penting.
Ajakan Berbisnis dalam Al-Qur’an
Al¬Qur'an penuh dengan ayat-ayat yang memotivasi manusia untuk melakukan aktivitas bisnis. Bisnis terutama perdagangan, menurut Al-Qur'an, adalah pekerjaan yang menguntungkan dan menyenangkan. Al-Qur'an kerap kali mengungkapkan bahwa perdagangan adalah sebuah pekerjaan yang paling menarik. [36] Al-Qur'an, tulis Torrey, dengan jelas menggambarkan perhatiannya yang besar dalam masalah perdagangan. [37] Kitab suci ini dengan lugas mendorong para pedagang untuk melakukan sebuah perjalanan yang jauh dan melakukan bisnis dengan para penduduk di negeri asing. Pekerjaan yang banyak menguntungkan ini dianggap sebagai sebuah karunia yang Allah berikan kepada orang-orang Quraisy. [38]
Al-Qur'an juga menekankan akan pentingnya alat-alat transportasi dan sarana pendukungnya (infrastruktur) yang akan memperlancar sebuah perjalanan bisnis. [39] Kapal disebut berulang-ulang di dalam Al-Qur'an dan dinyatakan sebagai karunia pada manusia, [40] dimana mereka diperintahkan untuk mempergunakannya dalam rangka mencari karunia Allah. [41]
Larangan Berbisnis dengan Tidak Jujur
Al-Qur'an sangat menghargai aktivitas bisnis yang jujur dan adil. Al-Qur'an berulang-ulang mencela dan melarang dengan keras segala bentuk praktek ketidakadilan dalam berbisnis. Tindakan yang tidak fair jauh lebih dikutuk daripada bentuk dosa-dosa yang lain. [42] Hal ini tentu menunjukkan betapa pentingnya sikap fair, jujur dan adil dalam aktivitas bisnis.
Disamping penghormatannya terhadap aktifitas bisnis yang fair, Al-Qur'an juga mengingatkan tentang makna kejujuran dan keadilan dalam perdagangan. Al-Qur'an sangat menghargai aktivitas bisnis dengan selalu menekankan kejujuran dalam hal bargaining. [43]
Banyak ayat di dalam Al-Qur'an yang menunjukkan sifat adil dan fair dinisbatkan pada Allah. Penisbatan sifat itu menunjukkan secara sempurna betapa pentingnya nilai keadilan dan kejujuran dalam Islam. Dimana Allah pun dalam memperlakukan hamba-Nya berdasarkan asas keadilan dan kejujuran tersebut. [44]
Wallahu a’lam bish-shawwab.
(Selesai)
Referensi:
- Ath-Thahawi, op.cit. 237: dan Majma'al-Lughah al-'Arabiyyah, M’ujam AlFazh Al-Qur'an Al Kariim (Kairo, Al-Hay'ah Al-Mishriyyah al-'Ammah li Ta'liif wa An-Nasyr, 1970, volume: 2. hal. 256 -262), untuk kemudian kami hanya akan sebutkan sebagai Mu’jam.
- Al-Qur'an : 103: 1-3. Yusuf Ali menafsirkan; " Jika hidup ini dimetaforakan sebagai bargaining bisnis, maka manusia yang hanya hadir dalam sisi materinya saja, jelas akan merugi. Jika dia mengadakan perhitungan bisnisnya di sore hari, maka akan terlihat bahwasanya dia telah rugi. Bisnis yang dia lakukan akan menampakkan untung jika dia memiliki Iman. yang mendorongnya untuk berbuat baik, dan memberikan kontribusi pada kesejahteraan sosial dengan memberi¬kan arahan dan dorongan pada orang lain untuk berjalan di Jalan yang lurus secara terus me¬nerus," Yusuf Ali, op.cit.: hal. 1783, no. 6263.
- Ath-Thahawi. op.cit.. 237.
- Al-Quran : 73 : 20. Tahajjud atau shalat malam pada awal periode Islam adalah wajib, namun akhirnya hukum wajibnya ini dihapus. Lihat Al-Baidhawi, op.cit.
- Al-Qur'an : 78 : 11. "Kata mencari penghidupan (subsistence) dalam bahasa Inggeris hanya meliput sebagian kecil ide tentang ma' asy, yang berarti segala bentuk aktivitas kehidupan. Kata hari di sini secara spesifik diungkap sebagai upaya menggambarkan bahwa segala bentuk ak¬tivitas di hari itu bisa diambil dan dilakukan" (Abdullah Yusuf Ali, op. cit.. 1673. no. 5892).
- Abdul Hadi, opt. cit., 153
- Untuk melihat secara detail. lihat Khallaf, opt.cit.. 168 -170
- Al-Qur'an : 29: 6.69.
- Al-Qur'an : 3 : 172, 4 : 95; 5 :10: 9 : 120; 11 : 11; 16: 97; 17: 9; 18: 2: 29: 58; 33: 29; 35 7; 39: 74: 41 : 8; 48:29; 84 : 25; 95: 6.
- Al-Qur'an : 48 : 29.
- Muzaffar Hussien. Motivation for Economics in Islam (Lahore : All Pakistan Islamic Education Congress. 1974, hal. 10-11. Hadits tentang doa Rasulullah ini diriwavatkan oleh Bukhari Muslim.
Langganan:
Komentar (Atom)